Investasi Terbaik di Masa Krisis

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita, namun kita bisa berinvestasi untuk membangun masa depan yang lebih baik"

INVESTASI TERBAIK DI MASA KRISIS
Prof. Roy Sembel, Ph.D
Chief Research Officer, CAPITAL PRICE
Dekan Business School, Direktur Program Pascasarjana UPH

Lebih dari Rp 1150 triliun kemakmuran investor saham di Bursa Efek Indonesia lenyap selama 10 bulan dari Januari 2009 sampai dengan akhir Oktober 2009. Kerugian sebesar lebih dari 60% dibandingkan kekayaan di awal tahun 2008 itu menyebabkan trauma yang dalam. Sebagai pembanding, kerugian sebesar 60% itu kira-kira sebanding dengan kerugian investasi saham di Indonesia pada krisis 1997-1998. Dari sisi angka rupiahnya, kerugian Rp 1150 triliun itu lebih besar dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2009, yaitu sebesar sekitar Rp 1000 triliun.

Di tingkat dunia, lenyapnya kemakmuran investor saham bahkan lebih parah lagi. Lebih dari Rp 160 ribu triliun menguap dari bursa saham seluruh dunia di tahun 2008. Angka itu lebih tinggi dibandingkan total nilai barang dan jasa final yang dihasilkan di Amerika Serikat sepanjang tahun 2008 (yaitu sekitar US$ 13 triliun, atau Rp 150 ribu triliun). Luar biasa dahsyatnya badai krisis finansial dunia kali ini.

Kuartal pertama tahun 2009 belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Indeks harga saham acuan di AS, yaitu DJIA, sempat anjlok ke level terendah sejak 1997. Sementara itu, indeks saham Jepang (Nikkei) bahkan sempat anjlok ke level terendah sejak 25 tahun terakhir.

Di tengah krisis ekonomi dan finansial dunia saat ini, di mana sebaiknya kita menempatkan dana kita? Pasar saham masih penuh ketidakpastian. Penempatan di Deposito memberikan bunga yang rendah. Sejalan dengan penurunan BI rate menjadi 7,75% per tahun, deposito di bank semakin rendah pula bunganya, yaitu hanya sekitar 6% per tahun.

3 Pilar Investasi
Agar investasi memberikan nilai tambah yang terbaik, diperlukan pertimbangan kecocokan antara 3 pilar investasi: Karakteristik investor, karakteristik instrumen investasi, dan situasi lingkungan investasi.

First thing first, investor perlu mengamankan dana darurat (dana yang diperlukan saat menghadapi situasi darurat). Dana darurat ini harus ditempatkan ditempat yang aman dan mudah dicairkan, misalnya deposito bulanan. Besar dana darurat yang perlu disisihkan bervariasi tergantung karakteristik investor. Dalam keadaan normal, dianjurkan investor menyisihkan dana darurat sebesar 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan. Sebagai contoh, bila pengeluaran bulanan Anda sekitar Rp 10 juta, maka dana darurat yang perlu disisihkan adalah sebesar sekitar Rp 50 juta.

Dalam situasi lingkungan investasi dilanda krisis, cash is king. Porsi dana darurat ini perlu diperbesar sampai sekitar 2 sampai 3 kali lipat. Kenaikan ini berguna untuk mengantisipasi meningkatnya peluang terjadinya situasi darurat saat krisis. Setelah krisis mulai memperlihatkan tanda tanda mereda, barulah porsi ini secara bertahap bisa dikurangi menjadi kembali ke level normal yaitu 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan.
Setelah dana darurat terpenuhi, investor bisa mulai mempertimbangkan investasi pada instrumen investasi lain. Dalam situasi krisis, keamanan menjadi faktor utama yang perlu dipertimbangkan. Untuk investasi jangka menengah (sampai dengan 3 tahun), investor bisa mempertimbangkan investasi di ORI.

Untuk investasi jangka menengah-panjang, bisa dipertimbangkan investasi di obligasi (atau reksadana pendapatan tetap yang berinvestasi di obligasi) pemerintah atau Sukuk, jangka waktu 5-8 tahun. Pertimbangan keamanan tetap menjadi faktor penting dalam keputusan ini.

Setelah investasi jangka pendek sampai menengah terpenuhi, barulah investor bisa mulai mempertimbangkan investasi jangka panjang. Bagi sebagian besar investor di Indonesia, investasi saham belum masuk hitungan. Di Indonesia, baru sekitar 1% dari total pendududuk yang secara aktif berinvestasi di saham di Bursa Efek Indonesia.
Untuk keperluan investasi jangka panjang, bagi sebagian besar orang, rumah tinggal adalah investasi jangka panjang terbesar selama hidupnya. Rumah tinggal yang dipilih dengan baik, akan menjadi aset investasi (istana) yang paling berdampak besar bagi mereka.

Sesuai dengan jargon Rumahku ISTANA ku, manfaat rumah bisa diuraikan sebagai kepanjangan dari I.S.T.A.N.A berikut ini:
1. Investasi: Dalam jangka pendek bisa dibuat menghasilkan cashflow, dalam jangka panjang capital gain.
2. Sehat: Rumah yang tertata baik akan menunjang kesehatan fisik dan mental kita
3. Teduh: Manfaat rumah yang paling dasar adalah tempat kita berteduh dari hujan, matahari, angin, udara panas dan dingin, dll
4. Akrab: Rumah adalah tempat kita berkumpul dan membangun keakraban dengan keluarga kita maupun dengan masyarakat di sekitar kita
5. Nyaman: Rumah yang dirancang baik akan memberikan kenyamanan bagi orang yang tinggal di dalamnya
6. Aman: Berlindung di dalam rumah memberikan kita rasa aman dari gangguan eksternal

Investasi aset nirwujud
Selain investasi pada aset yang berwujud (tangible asset), situasi krisis membuka peluang untuk mempertimbangkan investasi pada aset yang nirwujud (intangible asset), yaitu investasi pengembangan diri Anda. Di masa krisis, aktivitas dan transaksi bisnis secara umum diramalkan menurun. Penurunan aktivitas bisnis ini membuat banyak waktu luang tersedia bagi banyak orang. Dalam istilah ilmu ekonomi, opportunity cost penggunaan waktu untuk aktivitas non bisnis semakin kecil. Opportunity cost adalah penghasilan yang bisa diperoleh kalau waktu tersebut digunakan untuk kegiatan yang langsung menghasilkan pendapatan. Sebagai contoh, bila seorang eksekutif secara sengaja tidak masuk kerja selama satu minggu karena ingin mengikuti pelatihan peningkatan ketrampilan manajerial, maka opportunity cost nya adalah penghasilan yang sebenarnya bisa ia peroleh selama seminggu bekerja aktif di tempat kerjanya.

Jadi, untuk situasi seperti saat ini (ketersediaan waktu yang relatif banyak dan opportunity cost of time yang relatif kecil), ada satu investasi yang patut dipertimbangkan secara serius, yaitu investasi diri dalam bentuk pembelajaran (studi lanjut untuk gelar akademik formal, training untuk sertifikasi maupun training non formal) untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi. Investasi ini menjanjikan manfaat potensial yang besar baik secara materi maupun aspek lain. Selama ini, banyak eksekutif yang enggan investasi waktu untuk studi lanjut karena opportunity cost waktu mereka relatif besar. Tidak masuk kerja satu hari saja berarti kehilangan pendapatan cukup besar akibat transaksi yang tak jadi terlaksana. Dengan menurunnya opportunity cost saat krisis, maka manfaat investasi studi lanjut ini akan makin dominan (relatif terhadap opportunity cost-nya).

Investasi untuk meningkatkan human capital jelas diperlukan oleh Bangsa Indonesia. Selama ini tampaknya kita telah melaju terlalu cepat, sementara tenaga trampil dan memadai masih jauh dari cukup. Akibatnya, filosofi ‘tiada rotan akar pun berguna’ terpaksa diterapkan. Manajer karbitan dan eksekutif dadakan banyak bermunculan. Masa krisis saat ini merupakan saat yang tepat untuk memperbaiki kekeroposan kita di bidang human capital. Meminjam istilah Stephen Covey (pengarang The Seven Habits of Highly Effective People), ‘gergaji’ para manajer dan eksekutif kita sudah saatnya perlu dipertajam.

Dengan investasi pengembangan diri di tahun krisis, diharapkan akan tersedia sumber daya manusia yang memiliki karakter kesuksesan dan gergaji terasah tajam. Kombinasi ini merupakan aset yang tangguh bagi Bangsa Indonesia menghadapi era persaingan global yang lebih berat semasa krisis maupun pasca krisis.

Selamat berinvestasi!

(*/adm)



Salam,
Tim DakiUnta.Com


Re: Investasi Terbaik di Masa Krisis

Kalau menurut saya justru saat krisis ini adalah waktu terbaik untuk masuk ke investasi saham. High risk, high gain. Asal saham yang dipilih memiliki fundamental kuat.

Sudah terbukti sejak dari 2 krisis besar yang pernah terjadi di Indonesia.

Kekayaan Anda dapat berlipat - lipat dalam waktu maksimum 1 tahun.

Re: Investasi Terbaik di Masa Krisis

Saya sih usul ya.

Bgm kalo investasi itu, jangan yang besar-besar spt saham, valas dsb.

Tetapi sebaiknya yang kecil2 aja, spt reseller, kan udah banyak tuh beredar di internet seperti

http://www.formulabisnis.com (Ini kita dapet ebook dan trik pemasaran di internet)

http://www.uangpanas.com (Ini menjual ebook dan aplikasi untuk bisnis di internet)

http://www.gratisdiskon.com (Ini kita dapet kartu diskon sekaligus free pass di tempat-tempat (merchant) tertentu, sehingga bisa makan gratis, nonton gratis atau mendapatkan diskon2 menarik di salon,bengkel,supermarket dsb.)

Jadi. Dari pada gede2 mending yang kecil2 dulu lah. Biar resiko nya juga kecil

Ini cuma usul lho. Diterima gak diterima ya.. gak masyalah.