Kisah Inspiratif, Mantan Gangster yang Jadi Miliarder Produk Salon

Source: 
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=154216912&posted=1#post154216912, Ari Windyaningrum, Majalah DUIT No. 07/IV/Juli 200

Seperti produk pewarna rambut bikinannya, hidup John Paul DeJoria
sungguh berwarna. Ia melewatkan masa kecil yang tidak bahagia, masa
remaja yang penuh liku. Tapi, kini, di usia 65 tahun, John Paul menjadi
miliarder.

John Paul lahir di Los Angeles, 13 April 1944 dari pasangan imigran
Italia dan Yunani yang sama-sama mencari nafkah di Amerika Serikat.
Sayangnya, ketika John Paul berusia dua tahun, kedua orang tuanya
bercerai.

Untuk menyambung hidup, sedari kecil John dan abangnya
bekerja sebagai loper koran. Mereka bangun pukul 3.00 pagi untuk
melipat koran dan mengantarkannya dari rumah ke rumah. Bila libur Natal
tiba, mereka menambah pendapatan dengan menjual kartu natal. “Nanti
uang tambahan akan kami gunakan untuk merayakan Natal,” kenang John
Paul.

Saat ABG, dasar bandel, John Paul sempat menjadi anggota gangster di
timur LA. Ia baru kapok saat guru matematikanya di John Marshall High
School mengomelinya. “Kamu mau jadi apa kalau jadi anak geng? Kamu
tidak akan pernah sukses kalau hanya begini,” hardik sang guru, seperti
ditirukan John Paul. Perlahan, ia melepaskan diri dari komunitas
gangster yang gemar berpakaian hitam pekat, berambut gondrong, dan
memakai aksesoris logam. Meski belum lulus sekolah, ia didorong gurunya
untuk ikut program pembinaan AL.

Begitu lulus SMA pada 1962, ia ingin meneruskan menjadi AL, dengan
harapan bisa menjadi dokter gigi untuk angkatan perang AS. Namun, nasib
berbicara lain. Ia justru menikahi seorang gadis, tapi bercerai
beberapa tahun kemudian. Jadilah, John Paul menjadi orang tua tunggal.
Untuk menghidupi anak semata wayangnya, ia bekerja serabutan, mulai
dari pekeja bengkel, cleaning service, menjual buku, menjual mesin
fotokopi, sampai menjadi agen asuransi. “Saat usia saya masih dua
puluhan, saya terlalu bangga untuk hidup mandiri. Saya tunawisma tapi
punya lebih dari satu pekerjaan, dalam satu waktu,” kata John Paul,
seperti dikutip Forbes.

Pernah suatu ketika, ia dipecat jadi pekerjaannya. John Paul lalu
mengumpulkan kaleng Coca Cola dari tong-tong sampah dan menjualnya di
pengepul demi sejumlah uang untuk membeli kentang, sereal, makaroni,
keju, dan sop kalengan. “Seberapa sulitnya hidup ini, saya tak mau
menyerah,” tegasnya.

Standar hidup John Paul membaik ketika diterima menjadi tenaga
pemasaran majalah Time. Cuma butuh waktu sebentar sebelum ia menjadi
manajer sirkulasi Time untuk wilayah Los Angeles. Pada 1971, hidup John
Paul makin cerah ketika ia diterima bekerja di Redken Laboratories,
perusahaan produk salon ternama di AS. Mantan tunawisma itu pun
akhirnya menerima gaji US$650 per bulan.

Tapi, ia kemudian dipecat dari Redken karena dianggap membangkang atas
strategi yang telah digariskan perusahaan. Hingga kemudian John Paul
DeJoria bertemu Paul Mitchell, salah satu penata rambut paling ngetop
di Negeri Paman Sam. Singkat cerita, pada 1980, mereka berdua merintis
pendirian sebuah perusahaan bernama John Paul Mitchell Systems, yang
semula hanya memproduksi sampo dan produk perawatan rambut lainnya.
Mereka mendanai perusahaan dengan pinjaman bank senilai US$750. Sebagai
pembeda dengan kompetitor, mereka tak memajang warna pink di kemasan
produk, melainkan warna hitam.

Pintu Ke Sebelas

Ternyata, menjual produk bikinan sendiri tak semudah membalikkan
telapak tangan. Di bulan-bulan awal, salon-salon yang selama ini
menerima kehadiran John Paul DeJoria dan Paul Mitchell dengan tangan
terbuka, justru menutup pintu untuk produk baru besutan mereka. “Kami
menjual produk door to door. Tanpa lelah dan tanpa malu. Kami menyadari
bahwa penolakan adalah bagian dari sebuah proses bisnis,” ucapnya. John
Paul pun menitipkan produknya ke salon, tanpa mereka harus membayar
sepeser pun. Batas kartu kredit John Paul pun jebol. Dan ia menjual
rumah dan segala isinya demi bisnis. “Selama beberapa waktu, kami tidur
di mobil,” kenang dia.

Biar mengesankan John Paul Mitchell Systems memiliki kantor, mereka
berdua menyewa sebuah kotak pos yang diisi mesin penjawab telepon. Tak
patah akal, mereka meminta seorang kawan perempuan yang memiliki aksen
British medhok untuk menjawab telepon. Tentu saja, suara si perempuan
hanya direkam. “Di rekaman itu, saya minta dia untuk ngomong ‘Anda
menghubungi kantor John Paul Mitchell Systems, dan silakan tinggalkan
pesan karena mister John Paul DeJoria dan Paul Mitchell sedang ke luar
kantor’. Kami memang sedang keluar kantor, karena sedang menjual barang
door to door,” kata John Paul, tergelak.

Oleh karena perkembangan bisnis begitu lamban, John Paul lalu mengubah
strategi penjualan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. John Paul
melakukan demo produk di salon tujuan secara gratis dan memberi produk
secara cuma-cuma kepada puluhan salon di seantero negeri. Kalau produk
tak laku dijual atau tak dipakai, mereka boleh mengembalikan produk ke
perusahaan. Begitu nekat!

“Saya selalu bilang bahwa ada perbedaan antara orang
yang sukses dan orang yang tidak sukses. Orang sukses melakukan banyak
hal, yang kadang kala orang tidak sukses tidak bakal melakukannya.
Ibaratnya ada konsumen membanting pintu sepuluh kali di depan muka
kita, tapi kita tetap antusias menunggu bantingan pintu ke sebelas,”
kata John Paul, tersenyum.

Ketika bisnis sudah berjalan, John Paul menerapkan pengelolaan
perusahaan tanpa middle management. Ia adalah tipe orang bekerja dengan
tim kecil berisi orang-orang pilihan di level atas, yang kemudian
memiliki banyak karyawan di level bawah. Untuk mengikat loyalitas
karyawan, John Paul benarbenar memperhatikan karyawan, termasuk
menyediakan makan siang dan pesta kejutan bagi yang berulang tahun.

Di sisi lain, setelah menunggu sekian waktu, konsumen pun mengakui
kualitas produk besutan duo John Paul dan Paul ini. Kini, John Paul
Mitchell Systems memproduksi lebih dari 90 item dan dipakai di 90.000
salon di 46 negara di dunia. Tiap tahun, penjualan produk salon mereka
mencapai US$600 juta, berlipat hampir sejuta kali lipat dari investasi
yang hanya US$750.

Di kehidupan rumah tangga pun, John Paul akhirnya menemukan kebahagiaan
dengan menikahi mantan juru bicara perusahaannya, Eloise. Mereka
dikaruniai enam anak dan empat cucu. Menurut catatan Forbes, pria yang
bernama lengkap John Paul Jones DeJoria ini memiliki kekayaan hingga
US$2,5 miliar. Kini, pria yang masih setia berbaju hitam ini memiliki
belasan rumah mewah di Las Vegas, Austin, New York, Beverly Hills,
Rhode Island, pegunungan Aspen, Hawaii, dan di pantai Malibu. (Ari
Windyaningrum, Majalah DUIT No. 07/IV/Juli 2009)

Salah satu rumahnya :



Salam,
Tim DakiUnta.Com