Waspadai Perampokan Pembiusan Berlagak Antar Mobil Hadiah Grand Prize !


Editted by BabuToge on 29 June, 2009 - 12:35.
0 votes

Gw dapet tulisan ini dari salah satu blog.
Mudah2an bermanfaat.
Gw sampaikan lagi Ini untuk kita Waspadai !!  
Karena ini benar2 terjadi pada diri salah satu
teman kita. Kejadian berikut ini benar-benar
terjadi pada seorang teman kantor saya pada
24 Juli 2007 lalu.

Semoga cerita ini bermanfaat. Berawal dari
sebuah panggilan melalui telepon rumah
(fixed line/PSTN), yang menanyakan identitas
dan alamat yang sama persis dengan data yang
ada di buku telepon. Orang yang mengaku dari
“Metro TV” tersebut mengabarkan bahwa sang
pemilik nomor telepon berhak atas Grand Prize
berupa mobil “Kijang Innova”.

Karena sudah terlalu sering mendengar penipuan
semacam ini, maka dijawablah dengan ketus,
“kalau memang benar hadiah mobilnya buat saya,
kirim aja Pak mobilnya ke sini!”.
Singkat cerita, 2 jam kemudian sampailah
di depan rumah teman kita ini sebuah
Kijang Innova yang benar-benar baru,
lengkap dengan pelat nomor polisi
yang masih putih!

M
asih dengan perasaan yang ragu, sekaligus
surprised, maka dipersilakanlah tiga orang
yang mengantarkan mobil tersebut masuk
ke dalam rumah. Dengan menunjukkan seberkas
dokumen, yang konon berupa Surat Jalan,
dokumen Pajak, dokumen Asuransi,
dan dokumen-dokumen yang lain maka
diyakinkanlah bahwa ia memang berhak
atas mobil yang dibawanya tersebut.

Sayangnya, belum sempat ia memeriksa
dokumen-dokumen tersebut, beberapa orang yang
mengaku dari Pajak, Asuransi, dan juga Notaris
bergantian menghubungi via telepon dan
mengucapkan selamat atas hadiah yang didapat.

Setelah melihat ia sudah cukup yakin dengan
hadiah tersebut, maka pembicaraan beralih
ke kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang
‘Pemenang Grand Prize’, yaitu membayar pajak
hadiah. Menurut si pengantar mobil, jumlah
yang harus dibayar oleh ’sang pemenang’
adalah 25% dari harga mobil atau senilai
42 juta rupiah.

Menyadari simpanan dana yang ada tidak
mencukupi untuk jumlah tersebut, maka sempat
terfikir untuk mundur. Namun, tanpa mengenal
kata menyerah, si pengantar mobil kembali
meyakinkan bahwa soal pembayaran pajak adalah
hal sepele, bisa ditunda kapan saja, dan bisa
dibayar dengan dicicil… 10% dulu misalnya.

Maka muncullah kembali harapan teman kita ini
sambil bergumam,
“… kalau 10 juta sih saya punya…”. Gotcha!!
“OK Pak, 10 juta saya kira bisa diterima oleh
Pak Notaris”, tukas si pengantar mobil.
Setelah lebih kurang 2 jam berada di rumah
itu, maka tiga orang pengantar hadiah mobil
pamit untuk menuju ke ‘pemenang kedua’ sambil
lalu mereka pun mengajak untuk sekalian
bertemu notaris sambil mengendarai
‘Grand Prize’ yang baru dimenangkannya.

Dengan sangat meyakinkan sang pemenang
dipersilakan untuk mengendarai mobil yang
memang sudah diidamkannya selama ini.
Sebelum berangkat si pengantar hadiah
menanyakan apakah uang sudah dipersiapkan.

Sempat muncul keraguan, namun rasa gembira
mengalahkan keraguan yang sempat muncul,
hingga dibawalah olehnya uang tunai sejumlah
10 juta rupiah. Di tengah perjalanan,
si pengantar kembali menanyakan, apakah perlu
mampir ke ATM. Namun dijawab bahwa saldo
di tabungan sudah tinggal sedikit.

Maka perjalananpun dilanjutkan, dan melalui
jalan bebas hambatan (tol). Beberapa saat
di jalan tol, si pengantar dengan sopan
meminta agar kemudi diambil alih oleh temannya.
Dengan beralasan bahwa kendaraan belum
diserahterimakan, sehingga bisa merepotkan
jika terjadi kecelakaan, maka beralihlah
kemudi ke orang lain dan ia pun berpindah
duduk di samping pak sopir.

Di saat sedang menikmati kenyamanan kendaraan
baru tersebut, tiba-tiba dari belakang
sepasang tangan membekap mulut dan hidungnya
dengan lap atau sapu tangan yang beraroma
sangat tajam, hingga ia pun tak sadarkan diri.

Setengah tersadar, sekujur badan terasa sangat
dingin. Setelah tersadar penuh, ia mendapati
dirinya berada di tengah padang rumput
di pinggir jalan tol. Beruntung, dompet dan
seluruh isinya hanya diacak-acak hingga
ia pun bisa pulang kembali ke rumah dengan
selamat. ‘Beruntung’, hanya 10 juta saja yang
dibawa oleh komplotan penipu yang memanfaatkan
kekhilafannya siang itu….

Teman, jika kita cermati kasus ini,
maka tampak bahwa modus penipuan makin beragam,
makin berotak, dan juga makin bermodal.
Kebetulan, komplotan pada kasus ini masuk
dalam kategori komplotan yang ’sopan’,
‘baik hati’, dan main bersih
(hampir tidak ada jejak yang ditinggalkan) .

Bukan tidak mungkin di lain kesempatan,
bisa saja komplotan seperti ini bermain kasar.
Untuk itu selayaknya kita mengingatkan keluarga
yang kita tinggalkan di rumah saat kita bekerja
dan juga kita sendiri tentunya,
untuk lebih berhati-hati.


Bookmark and Share

Re: Waspadai Perampokan Pembiusan Berlagak

Wow....canggih juga ya penipuan jaman sekarang....Gimana cegahnya tuh kalo kayak gitu?